Share on facebook
Share on twitter

Ciri Toxic Positivity yang Kamu Nggak Sadar

Apa Aja Ciri Toxic Positivity Yang Malah Berdampak Negatif Buat Kamu?

Wajib kenal beberapa ciri toxic Positivity bagi Kamu yang sering mendengarkan kalimat inspiratif. Beberapa kalimat toxic positivity ini sering dipakai oleh orang-orang di sekitar Kamu. Jika Kamu sedang merasa sedih atau pernah merasa down, pasti mendengar kalimat-kalimat ini.

Bukannya semakin baik, kadang malah memperburuk kondisi diri Kamu pribadi. Tapi, sebetulnya apa, sih, toxic positivity itu? Secara umum, toxic positivity dapat dikenal sebagai kalimat positif yang diungkapkan oleh orang lain, tetapi membuatmu semakin terpuruk.

Mungkin setelah mendengar kalimat-kalimat tersebut Kamu jadi menyalahkan diri sendiri dan merasa bersalah. Yuk, kenali beberapa ciri toxic positivity yang perlu diketahui agar tidak terjadi sesuatu yang justru memperburuk keadaanmu.

Ciri Toxic Positivity Yang Banyak Ditemui

Kamu itu Harusnya Bersyukur

Ciri-Toxic-Relationship
Sumber: Gettyimages

Ciri Toxic Positivity yang paling sering diungkapkan oleh orang-orang ketika Kamu down adalah kalimat “Kamu itu harusnya bersyukur”. Sekilas, kalimat ini memang bermakna positif, yaitu mengingatkan Kamu supaya tidak lupa atas pemberian dari Yang Maha Kuasa.

Namun pernah merasakan ketika dalam keadaan titik terendah, kemudian orang lain mengucapkan kalimat ini kepadamu, bukan? Ketika sedang merasa sedih, marah, dan perlu didengarkan orang lain, sebetulnya Kamu ingin berbagi beban. Dalam kondisi yang buruk, tentu saja hal yang wajar ketika kita memiliki emosi negatif.

Marah, sedih dan kesal adalah emosi yang wajar dan semua orang mengalami. Emosi negatif merupakan respon alamiah Kamu ketika menghadapi situasi tidak nyaman. Nah, ketika diri Kamu merespons pengalaman negatif dengan emosi negatif, tentu yang dibutuhkan adalah pengertian dari pendengar yang baik.

Menyuruh untuk bersyukur akan membuat diri orang yang sedang down semakin merasa bersalah. Bahkan kalimat dengan ciri toxic positivity ini bisa membuat orang semakin terpuruk bila diucapkan pada saat yang salah.

Baca Juga: Manfaat Musik Klasik

Masih Banyak Orang Lain yang Tidak Seberuntung Kamu, lho

Beruntung-Toxic
Sumber: Gettyimages

Kalimat dengan ciri toxic positivity yang satu ini biasanya diucapkan sepaket dengan kalimat toxic positivity yang pertama. Ketika kita sedang curhat, tidak jarang orang lain mengucapkan kalimat ini.

Bila berada di posisi orang yang sedang down, maka orang tersebut akan merasa marah, kesal dan mungkin juga merasa bersalah setelah mendengar kalimat ini. Mengucapkan kalimat “Orang lain masih banyak yang tidak seberuntung Kamu, lho,” termasuk ciri toxic positivity.

Karena selain membuat orang yang sedang down menjadi marah dan merasa bersalah, kalimat ini juga tidak menyelesaikan permasalahan. Justru ketika mendengar kalimat ini, akan membuat orang tersebut tidak lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Di balik kalimat yang sebetulnya menghibur dan menyadarkan bahwa diri Kamu berharga, kalimat dengan ciri toxic positivity ini kurang tepat karena kalimat tersebut berarti membandingkan kita dengan orang lain. Entah untuk merasa bersyukur atau untuk membandingkan pencapaian, jangan membandingkan diri dengan orang lain, ya!

Tetap Semangat, Jangan Menyerah, ya!

Jangan-Menyerah
Sumber: Gettyimages

Maksud dari kalimat ini adalah supaya kita tidak mudah berputus asa ketika menghadapi permasalahan atau kesulitan. Namun, di balik nada positif ini, ada ciri toxic positivity di dalamnya. Sebagai manusia, kita tidak pernah dalam hidup dalam kondisi yang stagnan.

Kita juga tidak mungkin menghindari rasa lelah, rasa sedih, rasa kecewa akibat peristiwa buruk, baik di masa dulu maupun masa sekarang. Ketika lelah, tentu boleh beristirahat dan tidak selalu bersemangat. Ketika dalam kondisi yang serasa sulit, tentu manusiawi untuk merasakan ingin berhenti dan menyerah.

Kita tidak bisa dipaksa untuk tidak menyerah dan selalu bersemangat. Apalagi dalam kondisi-kondisi buruk. Adakalanya perlu beristirahat sejenak baru setelah itu melanjutkan perjuangan. Nah, ketika menjadi sahabat curhat dari temanmu atau keluarga yang sedang dalam kondisi buruk, jangan mengucapkan kalimat dengan ciri toxic positivity ini ya.

Cobalah memahami perasaannya dengan mengonfirmasi emosi yang dirasakan olehnya. Misalnya “Pasti capek, ya? Ga apa-apa istirahat dulu. Hidup tidak melulu harus semangat.” Kamu harus pintar memilih kalimat yang tepat untuk kawanmu itu.

Keep Positive Thinking!

Positive-Thinking
Sumber: Gettyimages

Kalimat ini kurang lebih berarti “selalu berpikir positif, ya”. Kesan kalimat ini baik, mungkin bertujuan supaya kita mencari hikmah dibalik segala kejadian buruk yang kita alami. Namun, kalimat ini tidak jarang menjadi salah satu ciri toxic positivity.

Kenyataannya, hidup tidak melulu positif dan membahagiakan. Ada saat di mana kita sedih, marah dan curiga. Pemikiran curiga, sedih marah sering kali dimaknai sebagai “negative thinking”. Padahal sebagai manusia kita juga perlu untuk merasakan emosi itu untuk bertahan hidup.

Jangan sampai menjadi naif dengan melihat dunia ini dari kacamata positif saja. Orang yang dalam keadaan buruk mendengar kalimat “tetap berpikir positif, ya!” malah membuat menjadi tertekan dan bersalah.

Dengan mengenal kalimat yang memiliki toxic positivity, kita menjadi paham untuk merespon diri sendiri ketika dalam keadaan yang kacau. Selain itu kita juga menjadi teman dan pendengar yang baik bagi orang-orang yang sedang terpuruk.

Jangan ucapkan kalimat dengan ciri toxic positivity kepada orang yang sedih, ya!

Mulai Berlangganan Pada Artikel Kami!

Kami akan mengirimkan artikel terbaru kami setiap minggunya, langsung ke kotak masuk email anda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bagikan cerita dan pengalamanmu melalui media sosial kami!